Tulisan
Mata Kuliah Softskill
Dosen : Bpk. Sriyanto
PENGERTIAN
MANAJEMEN KOPERASI
Manajemen merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap organisasi.
Sebagaimana diketahui, hakikat manajemen adalah mencapai tujuan melaluitangan
orang lain. Pencapaian tujuan melalui tangan orang lain itu dilakukan oleh
manajemen dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan,
fungsi pengorganisasian, fungsi pelaksanaan dan fungsi pengawasan. Dengan
demikian keberhasilan manajemen sebuah organisasiakan sangat tergantung pada
pelaksanaan masing-masing fungsi tersebut. Hal yang sama berlaku pula pada
koperasi. Hanya dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen itulah sebuah
koperasi akan dapat mencapai tujuan mulianya secara efektif.
Lembaga koperasi sejak awal diperkenalkan baik di
negara-negara Eropa Barat sebagai tempat kelahirannya maupun di Indonesia sudah
diarahkan untuk mampu mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat golongan
ekonomi lemah yang kurang beruntung dalam sistem ekonomi pasar liberal
kapitalistik. Oleh banyak kalangan, Lembaga koperasi diyakini sangat sesuai
dengan budaya dan tata kehidupan bangsa Indonesia dengan nilai-nilai saling
kerja sama(gotong royong), menolong diri sendiri, solidaritas,
kejujuran,keterbukaan,mengutamakan kebersamaan dan keadilan serta beberapa
esensimoral positif lainnya. Koperasi memang cocok untuk masyarakat Indonesia,
dan sudah ada didalam masyarakat kita jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada
dasarnya bangsa Indonesia suka bekerja sama dan saling tolong-menolong.
Koperasi yang pertama tumbuh subur di Indonesia adalah koperasi sosial yang
dalam kegiatannya lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat sosial tanpa memperhitungkan
segi keuntungan dalam arti ekonomi. Koperasi semacam ini dapat tumbuh subur
dengan landasan rasa solidaritas dari anggotanya. Dengan bermodalkan rasa
solidaritas yang tinggi dari para anggotanya saja, belumlah cukup untuk membina
koperasi jenis yang kedua yaitu koperasi ekonomi yang bergerak di bidang
ekonomi. Supaya koperasi ekonomi bertahan hidup dan seterusnya berkembang,
diperlukan individualitas (kepercayaan pada diri sendiri) dari para anggotanya.
Sebab hanya anggota yang percaya akan kemampuannya sendiri yang dapat
bertindak/bekerja untuk memajukan koperasi dan setia kepada koperasi yang
diikutinya. Selain itu, walaupun koperasi adalah organisasi yang tidak
mengutamakan keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi cara kerjanya tidak boleh
meninggalkan prinsip-prinsip ekonomi, supaya dapat berkembang dengan layak.
Apabila kegiatan usaha koperasi semakin luas maka masalah yang dihadapi semakin
kompleks, sehingga penanganannya tidak boleh dikerjakan secara amatiran tetapi
harus secara profesional. Dalam keadaan seperti itu, apabila anggota koperasi
tidak ada yang mampu dan cocok untuk menangani usaha koperasi tersebut tidak
ada salahnya, bahkan dianjurkan untuk mengambil orang atau sekelompok orang di
luar anggota koperasi yang benar-benar professional untuk menangani usaha
koperasi. Hanya saja perlu diingat bahwa tanggung jawab atas pekerjaan tersebut
tetap berada di tangan pengurus. Sehingga pengurus harus benar-benar
melaksanakan pengawasan secara ketat agar tidak terjadi
penyimpangan-penyimpangan. Pengurus harus bertindak dengan baik dan jujur agar
dapat mengawasi kerja karyawannya, sebab hanya orang yang berbuat baik dan
jujur saja yang dapat memperbaiki tindakan orang lain yang
kurang
baik.
POLA
MANAJEMEN KOPERASI INDONESIA
Koperasi seperti halnya organisasi yang lain membutuhkan
pola manajemen yang baik agar tujuan koperasi tercapai dengan efisien. Hal yang
membedakan manajemen koperasi dengan manajemen umum adalah terletak pada
unsur-unsur manajemen koperasi yaitu rapat anggota, pengurus, dan pengawas.
Adapun tugas masing-masing dapat diperinci sebagai berikut : Rapat anggota
bertugas untuk menetapkan anggaran dasar, membuat kebijaksanaan umum, mengangkat/memberhentikan
pengurus dan pengawas. Pengurus koperasi bertugas memimpin koperasi dan usaha
koperasi sedangkan. Pengawas tugasnya mengawasi jalannya koperasi. Untuk koperasi yang unit usahanya banyak dan
luas, pengurus dimungkinkan mengangkat manajer dan karyawan. Manajer atau
karyawan tidak harus anggota koperasi dan seyogyanya memang diambil dari luar
koperasi supaya pengawasannya lebih mudah. Mereka bekerja karena ditugasi oleh pengurus,
maka mereka juga bertanggung jawab kepada pengurus. Di bawah ini akan dibahas
mengenai beberapa pola manajemen koperasi yang nantinya akan membantu koperasi
tersebut dalam mencapai tujuannya :
a. Perencanaan
Perencanaan
merupakan proses dasar manajemen. Dalam perencanaan manajer memutuskan apa yang
harus dilakukan, kapan harus dilakukan, bagaimana melakukan dan siapa yang
harus melakukan. etiap organisasi memerlukan perencanaan. Baik organisasi yang
bersifat kecil maupun besar sama saja membutuhkan perencanaan. Hanya dalam
pelaksanaannya diperlukan penyesuaian-penyesuaian mengingat bentuk, tujuan dan
luas organisasi yang bersangkutan.
Perencanaan
yang baik adalah perencanaan yang fleksibel, sebab perencanaan akan berbeda dalam
situasi dan kondisi yang berubah-ubah di waktu yang akan datang. Apabila perlu
dalam pelaksanaannya diadakan perencanaan kembali sehingga semakin cepat
cita-cita/tujuan organisasi untuk dicapai.
Perencanaan dalam Koperasi :
Organisasi
koperasi sama dengan organisasi yang lain, perlu dikelola dengan baik agar
dapat mencapai tujuan akhir seefektif mungkin. Fungsi perencanaan merupakan
fungsi manajemen yang sangat penting karena merupakan dasar bagi fungsi
manajemen yang lain. Agar tujuan akhir koperasi dapat dicapai maka koperasi
harus membuat rencana yang baik, dengan melalui beberapa langkah dasar pembuatan
rencana yaitu menentukan tujuan organisasi mengajukan beberapa alternatif cara mencapai
tujuan tersebut dan kemudian alternatif-alternatif tersebut harus dikaji satu
per satu baik buruknya sebelum diputuskan alternatif mana yang dipilih Tipe
rencana yang dapat diambil dalam koperasi dapat bermacam- macam tergantung pada
jangka waktu dan jenjang atau tingkatan manajemen.
b. Pengorganisasian dan Struktur
Organisasi
Pengorganisasian
merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan
mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota
organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien. Pelaksanaan
proses pengorganisasian akan mencerminkan
struktur organisasi yang mencakup beberapa aspek penting seperti:
1. Pembagian kerja,
2. Departementasi,
3. Bagan organisasi,
4. Rantai perintah dan kesatuan
perintah,
5. Tingkat hierarki manajemen, dan
6. Saluran komunikasi dan sebagainya.
Struktur Organisasi dalam Koperasi :
Sebagai
pengelola koperasi, pengurus menghadapi berbagai macam masalah yang harus
diselesaikan. Masalah yang paling sulit adalah masalah yang timbul dari dalam
dirinya sendiri, yaitu berupa keterbatasan. Keterbatasan dalam hal pengetahuan
paling sering terjadi, sebab seorang pengurus harus diangkat oleh, dan dari
anggota, sehingga belum tentu dia merupakan orang yang profesional di bidang
perusahaan. Dengan kemampuannya yang terbatas, serta tingkat pendidikan yang
terbatas pula, pengurus perlu mengangkat karyawan yang bertugas membantunya
dalam mengelola koperasi agar pekerjaan koperasi dapat diselesaikan dengan
baik. Dengan masuknya berbagai pihak yang ikut membantu pengurus mengelola
usaha koperasi, semakin kompleks pula struktur organisasi koperasi tersebut.
Pemilihan bentuk struktur organisasi koperasi harus disesuaikan dengan macam
usaha, volume usaha, maupun luas pasar dari produk yang dihasilkan. Pada
prinsipnya semua bentuk organisasi baik, walaupun masing-masing mempunyai
kelemahan.
c. Pengarahan
Pengarahan
merupakan fungsi manajemen yang sangat penting. Sebab masing-masing orang yang
bekerja di dalam suatu organisasi mempunyai kepentingan yang berbeda-beda.
Supaya kepentingan yang berbeda-beda tersebut tidak saling bertabrakan satu
sama lain, maka pimpinan perusahaan harus dapat mengarahkannya untuk mencapai
tujuan perusahaan. Seorang karyawan dapat
mempunyai prestasi kerja yang baik, apabila mempunyai motivasi. Maka dari itu,
tugas pimpinan perusahaan adalah memotivasi karyawannya agar mereka menggunakan
seluruh potensi yang ada dalam dirinya untuk mencapai hasil yang
sebaik-baiknya. Supaya manajer atau pimpinan perusahan dapat memberikan
pengarahan yang baik, pertama-tama ia harus mempunyai kemampuan untuk memimpin
perusahaan dan harus pandai mengadakan komunikasi secara vertikal.
Manajemen Kepegawaian :
Seorang manajer kepegawaian adalah
pembantu pengurus yang diserahi tugas mengurus administrasi kepegawaian, yang
mencakup:
·
Mendapatkan
pegawai yang mau bekerja dalam koperasi,
·
Meningkatkan
kemampuan kerja pegawai,
·
Menciptakan
suasana dan hubungan kerja yang baik sehingga para karyawan tersebut tidak bosan
bekerja bahkan dapat meningkatkan prestasinya,
·
Melaksanakan
kebijaksanaan yang dibuat pengurus, mengawasi pelaksanaannya dan menyampaikan
informasi maupun laporan kepada pengurus secara teratur,
·
Memberikan
saran-saran/usul-usul perbaikan.
d. Pengawasan
Pengawasan
adalah suatu usaha sistematik untuk membuat semuakegiatan perusahaan sesuai dengan
rencana. Proses pengawasan dapat dilakukan dengan melalui beberapa tahap, yaitu
menetapkan standar, membandingkan kegiatan yang dilaksanakan dengan standar
yang sudah ditetapkan, mengukur penyimpangan-penyimpangan yang terjadi,
kemudian mengambil tindakan koreksi apabila diperlukan. Setiap perusahaan mengadakan
pengawasan dengan tujuan agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang
sudah ditetapkan.
Ada beberapa alasan yang dapat
diberikan mengapa hampir setiap perusahaan menghendaki adanya proses pengawasan
yang baik. Alasan- alasan tersebut antara lain:
· Manajer dapat lebih cepat
mengantisipasi perubahan lingkungan,
· Perusahaan yang besar akan lebih
mudah dikendalikan,
· Kesalahan-kesalahan yang dilakukan
oleh anggota organisasi dapat dikurangi.
Berdasarkan waktu melakukan
pengawasan, dikenal ada tiga tipe pengawasan yaitu, feedforward controll,
concurrent controll, dan feedback control.
Teknik dan Metode Pengawasan
Secara
garis besar pengawasan dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode pengawasan
kualitatif dan metode pengawasan kuantitatif. Pengawasan kualitatif dilakukan
oleh manajer untuk menjaga performance organisasi secara keseluruhan, sikap
serta performance karyawan. Metode pengawasan kuantitatif dilakukan dengan
menggunakan data, biasanya digunakan untuk mengawasi kuantitas maupun kualitas
produk. Ada beberapa cara yang biasa digunakan untuk mengadakan pengawasan
kuantitatif, antara lain: dengan menggunakan anggaran, mengadakan auditing,
analisis break even, analisis rasio dan sebagainya.
Kita dapat melihatnya dalam program
keterkaitan yang dicanangkan sebagai Gerakan Nasional muncul 4 (empat) macam
pola hubungan kemitraan, yaitu:
1. Pola Dagang
Keterkaitan merupakan hubungan
dagang biasa antara produsen/koperasi dan
pemasar/pengusaha.
2. Pola Vendor.
Kerjasama dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan operasional perusahan yang menjadi bapak angkat.
3. Pola Subkontrak.
Kerjasama dilakukan dalam hubungan
produk yang dihasilkan oleh koperasi menjadi bagian dalam sistem produksi bapak
angkat.
4. Pola Pembinaan.
Pola ini dikembangkan untuk memberi
kesempatan kepada koperasi yang memiliki potensi produksi tetapi lemah dalam
pemasaran Ke-empat pola tersebut memperlihatkan bahwa koperasi ditempatkan sebagai
sub sistem dari perusahaan swasta/BUMN. Padahal koperasi mempunyai kemampuan
untuk ditempatkan sebagai related system. Dengan demikian fokus perhatian
umumnya terarah kepada koperasi primer, sedangkan pengembangan koperasi
sekunder dan tersier tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dengan hanya menjadi
subsistem maka koperasi berada pada posisi bargaining yang lemah.
Memasuki
millennium ketiga ini sudah seharusnya dilakukan upaya- upaya yang lebih
teratur dan konsisten untuk membuat koperasi mampu berusaha di bidang
ekpor-impor. Koperasi harus didorong untuk tumbuh dalam satu jaringan kerja
(network) dan tidak hanya menjadi sub sistem perusahaan swasta. Pemerintah
dapat mengalokasikan dana untuk pengembangan koperasi dengan membangun
unit-unit quality control guna menetapkan standar ekspor serta meningkatkan
kualitas produk dari koperasi-koperasi produksi. Disamping itu juga membangun
unit-unit promosi (Rumah Produk Indonesia) yang memperlihatkan bebagai sample
produk dari koperasi yang mempunyai standar ekspor. Telah disinggung terdahulu
bahwa perhatian pembinaan yang hanya terfokus kepada koperasi primer akan
memperlambat perkembangan koperasi di Indonesia. Untuk itu sudah seharusnya
focus perhatian pembinaan disebarkan meliputi juga koperasi sekunder dan
tersier dalam suatu sistem pembinaan terpadu
Sumber Referensi :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar